Skip to main content

Posts

Asap oh Asap

Beberapa tahun lalu, saat umur saya awal 20-an (duileee..), saya punya cita-cita tinggal di kota yang tennag, gak banyak penduduknya, tapi fasilitas serba ada. Berbekal keinginan itu, saya membulatkan tekad untuk merantau!!.  And.. here i am. Sekarang beneran merantau di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.  Kota ini menurut saya relatif enak sih, gak padet2 banget, gak sering macet, tapi fasilitas juga komplit. Mau karaokean dari happy puppy, nav, diva, bahkan tempat karaoke abal-abal juga ada. Mau ke mall juga ada. Ya.. intinya cocok untuk tipikal orang-orang kadang pengen rame tapi sering pengen sepi kayak saya ini.  Nah kedamain mulai terusik bulan ini, sebabnya adalah Asap. Dulu saya sering banget lihat liputan kabut asap di tivi. Eh sekarang saya ngalamin sendiri. And i can say, its extremely uncomfortable. Sewangi apapun parfum yang saya pakai, sebulan ini tetep wangi yang dominan adalah bau asap. Hal yang paling mengganggu dari asap ini muncul pada saat subu...

Peniti

Saya pakai kerudung dan gak mau pake ribet pada saat saya pakai kerudung. Salah satu bentuk perlawanan dari keribetan itu adalah males mamakai bros warna-warni dan bling-bling pada kerudung saya. Kecuali pada special occasion. Alhasil, setiap hari saya memakai peniti.  Kadang saya menggunakan peniti kecil, sedang atau bahkan yang gede mirip peniti embah-embah yang dipakai di kebayanya.  Suatu hari, ada suatu teman sebut saja melati. Melati nyeletuk : saya juga pakai peniti karena bross saya keselip entah kemana. Ada yang spesial dari pernyataan melati? gak ada sih. Cuma mau bilang ternyata kebiasaan saya menjadi second option buat orang lain.  Berkaca dari obrolan peniti, saya sampai pada suatu pemikiran. Preferensi dan pandangan orang terhadap suatu hal pasti berbeda. Saya menganggap memakai bros itu ribet, apalagi yang bling-bling. its so emak-emak banget. Lain orang lain pikiran. Orang lain menganggap pakai peniti itu ngga banget. Nggak modal. Mending pake...

Perubahan Kecil Dimulai dari Rumah

Go Green. dua kata ini percaya gak percaya selalu muter-muter di otak saya. Entah karena kecuci otak karena keseringan lihat orang pakai kaos bertemakan go green pada saat kuliah atau memang keseringan baca materi kampanye dari LSM-LSM yang rasanya banyak banget dijumpai pada saat kuliah. Well, The campaign works! Dulu pengen banget ini dan itu biar bisa ikut-ikutan green lifestyle alias gaya hidup hijau ini. Nah, karena dulu masih ngekos dan susah banget ngobrak-abrik kosana, jadinya pasti yang dulu keluar di pikiran adalah "ntar deh kalo udah punya rumah sendiri". Nah, sekarang karena sudah punya rumah (kontrakan) sendiri, saya sudah mulai bisa berkreasi mempraktekkan kampanye-kampanye yang ada di kaos mahasiswa kehutanan. Simpel sih. Ngefeknya ga banyak juga, tapi kalo banyak yang lakuan, yakin aja deh bermanfaat. Apa saja sih perubahan kecil yang bisa dilakukan di rumah. Ini yang sudah saya praktekkan : 1 . Memanen Air Hujan  Kebayang kan jika musim kemar...

Ceroboh vs Laboratorium

Dua tahun terakhir saya nggak jauh-jauh dari namanya laboratorium. Karena ketidaksengajaan, akhirnya saya nyebur dan bekerja di runagan yang dinamakan laboratorium. kadang senang kadang bosan. Ya iyalah, yang dilihat cuma bakteri dan jamur serta berjejer bahan kimia.  Nah meskipun sudah dua tahun bekerja di lab, saya masih susah sekali lepas dari sifat ceroboh yang berakibat fatal. Jika diingat-dinggat ada rentetan kejadian bodoh yang sebabnya ya saya sendiri.  masih teringat sekali, pada saat ekstraksi DNA saya menumpahkan eppendof non-retention. Jenis mikropipet ini mahal dan sekali jatuh harus dibuang. Nah, waktu itu saya nyenggol sesantainya dan akhirnya ratusan micropippet itu jatuh semua.  Lalu, lupa setting micropippet dengan benar karena pingin kerjaanya cepat selesai yang berakibat gagalnya ekstraksi DNA, mecahin lat ini itu, api membara di dalam laminar dan lain-lain. Itu cerita waktu ngerjain tesis.  Lain tempat lain cerita. Sekarang di te...

Mampir Sebentar ke Pantai Pagatan

Kalo ditanya teman tempat wisata yang menarik di Kalimantan Selatan itu apa, wah mungkin butuh seminggu jawabnya.  Sebagai perantau newbie di sini, saya juga mengajukan pertanyaan yang sama kepada teman-teman saya dan jawabnnya sama, bingung. Tapi kemarin saya berkesempatan mengunjungi salah satu destinasi wisata di Kalimantan Selatan, yakni Pantai Pagatan.  Sebenarnya kunjungan ke pantai ini adalah suatu ketidaksengajaan. Ceritanya, lagi dalam perjalanan dan kita niatin sebentar mampir ke pantai yang ada di dekat jalan yang kita lewati. Eh, pas mobil mau parkir di daerah-daerah berpasir, kita malah lihat ada gerbang dan sejenis darmaga yang memang sengaja dibangun untuk wisata.  Nah, dari situ akhirnya kita muter lewat gerbang dan baru tahu bahwa lokasi yang kita datangi adalah pantai Pagatan. Pantai Pagatan ini letaknya di kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Jika ditempuh dengan jalan darat lama perjalannnya kira-kira 6 jam dari Banjarbaru. Jauh, iya...

Lulusan IPB dan Motor

Ada pencapaian luar biasa yang saya capai minggu ini, yakni bawa motor. bukan cuma bawa, tapi nyetirin motor sendiri.  Buat saya yang diboncengin saja takut, tentu ini prestasi. Memang keadaan terpaksa buat kita melakukan apa saja yang kiranya tidak mau lakukan sebelumnya.  Hidup di luar jawa, yang minim transportasi umum mengharuskan masing-masing individu memiliki kemampuan untuk mengendarai kendaraan. Dulu, saat saya bekerja di Pontianak, saya bisa survive dengan mengendarai sepeda saja kerena jarak dari kosan saya menuju kantor dekat.  Tapi pas tinggal di Banjarabaru ini, kondisi memaksa saya untuk bisa mengendarai motor.  Ada sedikit gurauan di lingkungan kantor saya sekarang tentang kemampuan naik motor dan alamamater, yakni anak ipb (cewek) pasti ga bisa naik motor, beda sama anak UGM. Ya.. gimana ya, pasti beda lah. Anak IPB kan cinta lingkungan, jadi lebih memilih menggunakan transportasi umum berupa angkot dibanding bawa kendaraan pribadi....

Lulus

5 Agustus 2014 Lulus S2. Alhamdulillah.  rasanya masih kemarin saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan saya saat itu dan memutuskan kuliah dengan tekad bulat ber bekal tabungan selama bekerja satu setengah tahun bekerja.  Saya mengambil jurusan silvikultur tropika dengan cita-cita bergerak di bidang restorasi dnegan penggunaan teknologi terbaru (ceritanya sih begitu), tapi pas kecemplung di sini malah dijodohkan dengan studi jamur-jamuran yang tak kasat mata.  Selama kuliah, proses yang saya jalani luar biasa. Dari cekak duit sehingga mesti cari kerjaan tambahan dari ngajar, jualan kerudung, jadi content writer dan lain-lainnya. Sampai alhamdulillah dapat beasiswa pada tahun kedua dan juga dapat kesempatan mengikuti pertukaran pelajar yang rasanya nano-nano.  Satu lagi yang tak kalah penting adalah teman-teman yang sudah kayak sodara. satu angkatan kami hanya ada 11 orang, jadi tak heran kita sangat dekat satu sama lain. Saling memberi bantua...