Skip to main content

Posts

Showing posts from 2026

Jiwa yang Menolak Tua

Minggu lalu saya merayakan ulang tahun ke tiga puluh sembilan.  Di minggu yang sama, saya menyelesaikan defense doktoral saya, me time full 10 hari di Sapporo, dapat 100% tuition fee, dan dapat bunga dari suami. Yup, bisa dibilang perfect birthday.  Jiwa sudah tiga puluh sembilan. Namun, raga entah kenapa selalu berfikir jika usia ini masih dua puluh lima. Ini hanya sangkalan, karena tubuh sudah jelas-jelas memberikan sinyal jika saya bukan dua puluh lima lagi. Mulai dari uban yang serupa highlight silver, kacamata progresif yang nyatanya nyaman, dan juga metabolisme yang melambat.  Bertambahnya usia mendekati usia empat ini ternyata tak hanya merubah fisik, tapi cara pandang tentang kehidupan. Tak perlu lagi melakukan hal yang tidak disuka demi validasi. Di usia ini juga mengenal apa itu yang layak dilepaskan dan layak dipertahankan. Drama-drama juga mulai ditinggalkan. Satu lagi yang penting: ketenangan hati adalah berkah luar biasa.  Umur bukanlah hanya sekedar an...

PhiniseD

Akhirnya, pada tanggal 23 Juli 2026, saya menyelesaikan sidang doktoral.  Setelah defense, saya pulang ke apato. Saya menangis. Bukan karena euforia akhirnya menyelesaikan studi doktoral ini. Bukan pula karena gelar PhD yang akan saya sandang. Saya menangis karena merasa lega. Urusan yang begitu lama memenuhi hidup saya empat tahun terakhir ini, akhirnya selesai juga. Setelah selesai, ternyata banyak pertanyaan yang ada di benak saya.  Apakah benar saya layak ? Apakah ada manfaatnya studi saya ini?  Abis ini ngapain?  Di hari-hari terakhir di Sapporo, saya bertemu teman-teman. Pertemuan-pertemuan hangat itu mengingatkan saya bahwa Allah sering kali menghadirkan pertolongan melalui orang-orang di sekitar kita. Kehadiran mereka membuat perjalanan ini terasa lebih ringan. Sekelebat momen-momen yang tidak menyenangkan selama menjalani PhD masih sesekali muncul di kepala. Rupanya, kenangan seperti itu tidak mudah hilang. Namun saya percaya, seiring waktu, luka itu akan k...

Kembali ke Bogor dan Pernik-perniknya

Per April 2026, saya kembali ke Bogor.  Tak seperti yang banyak orang-orang gembar-gemborkan bahwa orang yang berpindah dari Jepang ke Indonesia akan jet lag dengan kondisi di sini, sepertinya tidak berlaku untuk saya dan Gamila.  Tak ada rasa tersisih saat naik transportasi umum, tak ada pikiran " I dont belong here ", dan tak ada mata-mata aneh melihat karena saya memakai hijab. Tak ada lagi kata mengganjal karena kesulitan bahasa dan buta huruf. Bukan. Saya bukan mengutuk Jepang. Saya sangat mensyukuri bisa ada kesempatan tinggal disana dengan keteraturan dan kebersihannya. Tapi sebetah-betahnya tinggal di sana, ada hal kecil dalam hati yang tak bisa bohong.  Satu hal yang semakin tajam ada di kepala saat berada di sini ya mengutuk pemerintah.  Hal yang ada di pikiran adalah ini adalah rumah dan " I belong here " dengan segala warna-warni yang mengikutinya. Tenang. Mungkin itulah kata yang menggambarkan.  Per-April 2026 saya juga mulai aktif kembali bekerja. ...

Cerita dari Wajah-wajah Asing #4

Di persimpangan lampu merah dekat sekolah, aku sering bertemu mereka. Sepasang orang tua, mungkin berusia sekitar empat puluh tahun, bersama anak mereka. Seorang gadis yang tingginya sudah melebihi kedua orang tuanya, dan dari caranya bergerak serta berinteraksi, terlihat jelas bahwa ia adalah anak neurodivergen. Saat hari tidak bersalju, sang ayah menggendong anaknya hingga ke gerbang sekolah, layaknya seorang pangeran membopong ratunya. Setiap hari. Pemandangan yang sama, dan selalu terasa manis. Entah mengapa, suatu hari pikiranku melayang ke arah yang lebih sunyi. Bagaimana nanti jika orang tuanya tak lagi mampu menggendongnya? Atau jika suatu hari, orang tuanya berpulang lebih dulu?  Pemikiran semacam ini, pasti semua orang tua memilikinya. Tak terhindarkan. Mungkin ini hakikat menjadi orang tua, selalu belajar menggenggam dengan baik sambil perlahan melepas.