Dua hari yang lalu saya mendapatkan email dari academic office Hokkaido University yang berisi pesan untuk memastikan apakah nama dan tanggal lahir saya sudah benar. Melihat draft certificate degree tersebut, ada satu kalimat yang terbesit, "akhirnya selesai sudah". Namun, setelah waktu berjalan ternyata tak ada hal yang benar-benar selesai. Masih teringat di memori saat masa-masa sulit studi tersebut. Saat sulit pasti tercetus, "ayok dikit lagi selesai". Di lain waktu, ada juga pikiran yang berkata "wah kalo ini selesai pasti lega banget", atau "ah klo ini selesai mau ini dan itu ah". Begitulah yang terpikir waktu itu. Namun, saat itu urusan studi benar-benar selesai ternyata ada urusan A, B, C, mungkin sampai Z yang juga menunggu di selesaikan. Pikiran ternyata tak bisa benar-benar tenang. Benar juga kata aldi taher, kita akan ga pusing kalo sudah di di surga. Ya begitulah dunia bekerja.
Minggu lalu saya merayakan ulang tahun ke tiga puluh sembilan. Di minggu yang sama, saya menyelesaikan defense doktoral saya, me time full 10 hari di Sapporo, dapat 100% tuition fee, dan dapat bunga dari suami. Yup, bisa dibilang perfect birthday. Jiwa sudah tiga puluh sembilan. Namun, raga entah kenapa selalu berfikir jika usia ini masih dua puluh lima. Ini hanya sangkalan, karena tubuh sudah jelas-jelas memberikan sinyal jika saya bukan dua puluh lima lagi. Mulai dari uban yang serupa highlight silver, kacamata progresif yang nyatanya nyaman, dan juga metabolisme yang melambat. Bertambahnya usia mendekati usia empat ini ternyata tak hanya merubah fisik, tapi cara pandang tentang kehidupan. Tak perlu lagi melakukan hal yang tidak disuka demi validasi. Di usia ini juga mengenal apa itu yang layak dilepaskan dan layak dipertahankan. Drama-drama juga mulai ditinggalkan. Satu lagi yang penting: ketenangan hati adalah berkah luar biasa. Umur bukanlah hanya sekedar an...