Per April 2026, saya kembali ke Bogor. Tak seperti yang banyak orang-orang gembar-gemborkan bahwa orang yang berpindah dari Jepang ke Indonesia akan jet lag dengan kondisi di sini, sepertinya tidak berlaku untuk saya dan Gamila. Tak ada rasa tersisih saat naik transportasi umum, tak ada pikiran " I dont belong here ", dan tak ada mata-mata aneh melihat karena saya memakai hijab. Tak ada lagi kata mengganjal karena kesulitan bahasa dan buta huruf. Bukan. Saya bukan mengutuk Jepang. Saya sangat mensyukuri bisa ada kesempatan tinggal disana dengan keteraturan dan kebersihannya. Tapi sebetah-betahnya tinggal di sana, ada hal kecil dalam hati yang tak bisa bohong. Satu hal yang semakin tajam ada di kepala saat berada di sini ya mengutuk pemerintah. Hal yang ada di pikiran adalah ini adalah rumah dan " I belong here " dengan segala warna-warni yang mengikutinya. Tenang. Mungkin itulah kata yang menggambarkan. Per-April 2026 saya juga mulai aktif kembali bekerja. ...
Di persimpangan lampu merah dekat sekolah, aku sering bertemu mereka. Sepasang orang tua, mungkin berusia sekitar empat puluh tahun, bersama anak mereka. Seorang gadis yang tingginya sudah melebihi kedua orang tuanya, dan dari caranya bergerak serta berinteraksi, terlihat jelas bahwa ia adalah anak neurodivergen. Saat hari tidak bersalju, sang ayah menggendong anaknya hingga ke gerbang sekolah, layaknya seorang pangeran membopong ratunya. Setiap hari. Pemandangan yang sama, dan selalu terasa manis. Entah mengapa, suatu hari pikiranku melayang ke arah yang lebih sunyi. Bagaimana nanti jika orang tuanya tak lagi mampu menggendongnya? Atau jika suatu hari, orang tuanya berpulang lebih dulu? Pemikiran semacam ini, pasti semua orang tua memilikinya. Tak terhindarkan. Mungkin ini hakikat menjadi orang tua, selalu belajar menggenggam dengan baik sambil perlahan melepas.