Di persimpangan lampu merah dekat sekolah, aku sering bertemu mereka. Sepasang orang tua, mungkin berusia sekitar empat puluh tahun, bersama anak mereka. Seorang gadis yang tingginya sudah melebihi kedua orang tuanya, dan dari caranya bergerak serta berinteraksi, terlihat jelas bahwa ia adalah anak neurodivergen. Saat hari tidak bersalju, sang ayah menggendong anaknya hingga ke gerbang sekolah, layaknya seorang pangeran membopong ratunya. Setiap hari. Pemandangan yang sama, dan selalu terasa manis. Entah mengapa, suatu hari pikiranku melayang ke arah yang lebih sunyi. Bagaimana nanti jika orang tuanya tak lagi mampu menggendongnya? Atau jika suatu hari, orang tuanya berpulang lebih dulu? Pemikiran semacam ini, pasti semua orang tua memilikinya. Tak terhindarkan. Mungkin ini hakikat menjadi orang tua, selalu belajar menggenggam dengan baik sambil perlahan melepas.
Di apartemen tua ini, setiap kamar dipisahkan oleh partikel board kayu berongga. Ada suara lantai berderit saat orang yang tinggal di lantai atas berjalan, apalagi meloncat. Saat sunyi, suara flush toilet bisa terdengar, begitu juga suara air mengalir dari kran kamar mandi. Kadang-kadang, suara ini bisa memicu pertengkaran antar tetangga hingga tak jarang ada yang melapor polisi karena merasa terganggu oleh suara dari kamar di atas atau di samping. Namun, hal itu tak pernah terjadi denganku. Hal yang patut aku syukuri selama tinggal di sini. Suara tangisan anakku, atau suaraku ketika menjelma jadi singa menghadapi anak, tak membuat tetanggaku bergeming. Kami tak saling kenal, hanya sekadar tahu. Kata-kata yang terucap pun sebatas “selamat pagi” atau “selamat siang.” Meski begitu, aku cukup familiar dengan suara mereka. Oh ya, kuperkenalkan kau dengan mereka. Sepasang muda-mudi, mungkin usianya akhir 20-an. Kami tentu saja tak pernah bertegur sapa, seperti yang sudah kukatakan tadi. Tap...