Minggu lalu saya merayakan ulang tahun ke tiga puluh sembilan. Di minggu yang sama, saya menyelesaikan defense doktoral saya, me time full 10 hari di Sapporo, dapat 100% tuition fee, dan dapat bunga dari suami. Yup, bisa dibilang perfect birthday. Jiwa sudah tiga puluh sembilan. Namun, raga entah kenapa selalu berfikir jika usia ini masih dua puluh lima. Ini hanya sangkalan, karena tubuh sudah jelas-jelas memberikan sinyal jika saya bukan dua puluh lima lagi. Mulai dari uban yang serupa highlight silver, kacamata progresif yang nyatanya nyaman, dan juga metabolisme yang melambat. Bertambahnya usia mendekati usia empat ini ternyata tak hanya merubah fisik, tapi cara pandang tentang kehidupan. Tak perlu lagi melakukan hal yang tidak disuka demi validasi. Di usia ini juga mengenal apa itu yang layak dilepaskan dan layak dipertahankan. Drama-drama juga mulai ditinggalkan. Satu lagi yang penting: ketenangan hati adalah berkah luar biasa. Umur bukanlah hanya sekedar an...
Akhirnya, pada tanggal 23 Juli 2026, saya menyelesaikan sidang doktoral. Setelah defense, saya pulang ke apato. Saya menangis. Bukan karena euforia akhirnya menyelesaikan studi doktoral ini. Bukan pula karena gelar PhD yang akan saya sandang. Saya menangis karena merasa lega. Urusan yang begitu lama memenuhi hidup saya empat tahun terakhir ini, akhirnya selesai juga. Setelah selesai, ternyata banyak pertanyaan yang ada di benak saya. Apakah benar saya layak ? Apakah ada manfaatnya studi saya ini? Abis ini ngapain? Di hari-hari terakhir di Sapporo, saya bertemu teman-teman. Pertemuan-pertemuan hangat itu mengingatkan saya bahwa Allah sering kali menghadirkan pertolongan melalui orang-orang di sekitar kita. Kehadiran mereka membuat perjalanan ini terasa lebih ringan. Sekelebat momen-momen yang tidak menyenangkan selama menjalani PhD masih sesekali muncul di kepala. Rupanya, kenangan seperti itu tidak mudah hilang. Namun saya percaya, seiring waktu, luka itu akan k...