Skip to main content

Bulan Keenam

Bulan keenam di tahun ini ditandai dengan berbagai festival yang mulai diselenggarakan di berbagai tempat. Saya menghadiri dua festival di bulan ini. Orang-orang sangat ramai, menikmati cuaca yang hangat. Semua membawa karpetnya, merebahkan tubuh menikmati matahari. Mereka bersenda gurau dengan teman sambil memakan eskrim yang segar. 

Lahir dan tumbuh di negara tropis membuat saya tidak menyadari betapa "mahal"nya cahaya matahari. Semua terlihat biasa. Namun, di sini kita merayakan matahari yang bersinar. Daun-daun yang tumbuh hijau dengan gradasinya, bunga yang berwarna-warni, petani mulai menanam benihnya, dan suara burung yang yang beraneka ragam. Ternyata, setelah musim dingin yang lama, tanaman dan bunga liar pun nampak indah di sini. 

Kadang pernah terpikir, kenapa kita tidak terlalu menikmati cahaya matahari saat di Indonesia? Mungkin jawabannya adalah karena itu tersedia tak terbatas. Jika di Sapporo ini cahaya matahari melambangkan rasa bahagia, kenapa di Indonesia kita biasa saja jika rasa bahagia itu tersedia sepanjang tahun? Ternyata jika kebahagiaan tersedia terus-menerus, apakah lantas bahagia terasa hambar? 

Mungkin itulah mengapa harus ada masa-masa di mana kita merasa sedih dan ada masa kita merasa bosan, juga bahagia? mungkin memang itu diciptakan agar kita menikmati masa bahagia dengan lebih berkesan? Ya, mungkin saja. 


Comments

Popular posts from this blog

Maju Mundur Ikut Program Hamil di Banjarmasin

Sebenernya pengen keep secret usaha promil saya karena males ditanya-tanya. Tapi gak ada salahnya di-share, siapa tau ada yang perlu cari-cari info tentang tentang program hamil terutama di kota yang gak gede-gede banget dan gak kecil-kecil banget yakni di Banjarbaru ato Banjarmasin. Semangat ini muncul karena ternyata postingan tentang test HSG saya juga banyak yang baca...jadinya makin semangat biar lebih banyak yang baca dan muncul kesadaran tentang apa-apa yang akan saya ceritakan terutama masalah infertilitas yang masih dianggap sebagai hal yang memalukan. Padahal, yaa menurut kami sama aja kayak penyakit biasa yang bisa disembuhkan dan selalu ada harapan kok.  *** Jadi, saya menikah Februari 2014. Setelah menikah kami LDR Bogor-Batu licin (Kalsel), karena saya masih kudu sekolah S2. Lalu saya pindah ke Banjarbaru, eh suami saya dipindah ke Kalbar tepatnya di Ketapang. Kalo gak salah hampir setahunan. Lalu, suami resign dan pindah ke Kalimantan Tengah. Jadi, mending deh...

Informasi Biaya Persalinan di Banjarbaru

"Setiap anak ada rejekinya masing-masing" Begitu kata banyak orang. Meskipun demikian, perencanaan juga perlu, termasuk perencanaan keuangan pas mau melahirkan. Perubahan fisik ibu hamil juga pasti menuntut biaya yang tidak sedikit. Bra udah mulai ganti model ke model menyusui, baju-baju tanpa kancing bukaan depan sudah mulai disimpan. Itu baru untuk ibu. Jangan lupa juga siap-siap untuk calon dedek bayi yakni peralatan sehari-hari juga bajunya.  Sudah banyak banget yang bahas daftar perlengkapan apa saja untuk menyambut kelahiran dedek bayi. Namun, gak banyak yang kasih info biaya persalinan di banjarbaru kan.  Nah, buat ibu-ibu yang lagi itung-itung biaya persalinan di sekitaran banjarbaru..nyoh tak kasih infonya :)  Rumah Sakit Ibu dan Anak Mutiara Bunda, Martapura  Persalinan Caesar                         : 18-23 juta Persalinan Normal              ...

I Do Miss You

Today I visited CIFOR forest, and this visit made me realized that I miss a lot of thing...  I do miss the dew I do miss the mist I do miss the smell of forest soil I do miss the sounds inside the forest I do miss the green I do miss primate's morning call I do miss bird's tweet I do miss being peacefull in the middle of forest I do miss the tent inside the silent forest I do miss a cup of coffe and sitting in the middle of the forest I do miss the friendship in the forest I do miss Tropical Rain Forest Stay green dear...keep the peacefull for all of the world