Bulan kemarin, saya menyaksikan drama Jepang berjudul Until the T-shirt Dries. J-drama masih menjadi favorit saya karena sering kali menyajikan cerita tanpa konflik berlebihan, dengan kisah slice of life yang sederhana, tetapi dekat dengan keseharian manusia.
Drama ini menceritakan sepasang suami istri yang sudah menikah selama sepuluh tahun. Suatu hari, sang suami tiba-tiba menghilang selama setahun, lalu kembali. Perlahan, melalui tiap episodenya, drama ini menggambarkan perasaan masing-masing tokoh dan kerumitan hubungan dalam pernikahan.
Salah satu hal yang menarik bagi saya adalah bagaimana lamanya pernikahan ternyata tidak menjamin bahwa kita dapat memahami pasangan sepenuhnya. Tetap ada misteri yang belum terpecahkan, hal-hal yang tidak pernah dibicarakan, serta sifat dan kebiasaan pasangan yang mungkin tidak kita sukai. Namun, alih-alih terus memprotesnya, terkadang kita memilih untuk menerima kebiasaan tersebut sebagai bagian dari dirinya.
Ada juga sesuatu yang cukup menggelitik dari cerita ini. Baru saya sadari bahwa ketika kita terikat dalam pernikahan, hubungan dengan orang lain yang berlainan jenis bisa saja dianggap sebagai sebuah pengkhianatan, meskipun tidak ada maksud apa-apa di baliknya. Sesuatu yang mungkin dianggap biasa ketika masih sendiri bisa memiliki makna yang berbeda ketika sudah menikah.
Mungkin memang itulah uniknya pernikahan. Ada batas-batas yang sebelumnya tidak pernah kita pikirkan, ada perasaan orang lain yang harus dipertimbangkan, dan ada tanggung jawab yang tidak lagi hanya menyangkut diri sendiri.
Pada akhirnya, saya berpikir bahwa kepercayaan (trust), komitmen, dan keimanan adalah beberapa hal penting yang membuat pernikahan bisa bertahan. Tanpa itu semua, rasanya sulit membayangkan dua orang dapat terus berjalan bersama dalam waktu yang panjang. Sebab, cinta saja mungkin tidak cukup untuk menghadapi segala kerumitan yang muncul sepanjang pernikahan.
Bagi saya, sebagian cerita dalam drama tersebut terasa begitu dekat. Bukan, bukan karena suami saya pernah menghilang selama setahun atau berselingkuh. Untungnya tidak. Haha. Amit-amit. Namun, ada satu hal yang sangat bisa saya pahami, yaitu tentang menerima sifat dan kebiasaan pasangan yang sebenarnya tidak kita sukai.
Ada satu kebiasaan suami saya yang sejak dulu tidak pernah bisa saya terima sepenuhnya: merokok. Lebih tepatnya, dia adalah seorang perokok berat.
Saya tidak suka rokok. Saya tidak suka baunya, tidak suka asapnya, dan tentu saja tidak suka membayangkan dampaknya terhadap kesehatan. Rasanya sudah berkali-kali saya menyampaikan keberatan, mengingatkan, bahkan mungkin mengomel. Namun, sejauh ini tidak banyak yang berubah.
Sampai akhirnya saya tiba pada satu titik ketika saya merasa tidak lagi punya tenaga untuk terus berusaha mengubah kebiasaannya.
Akhirnya, ya, pasrah.
Entahlah. Mungkin memang begitulah pernikahan. Ada banyak hal yang harus dibicarakan, ada yang perlu diperjuangkan, dan ada pula yang untuk sementara hanya bisa kita terima. Ya namanya juga hidup, pasti ada saja toh tantangannya. Enjoy saja sambil menikmati series.
Comments
Post a Comment