Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2013

Sketsa Lalu

"Jangan dibuang", kataku pada kakakku "Sudah usang", kakakku menimpali "Tidak apa, aku simpan", lantas mengambil selembar kertas gambar berisi sketsa diriku yang aku dapat darinya mungkin 7 tahun lalu.                                                                                                 ### Dia. Ah, rasanya sulit sekali mengerti dia pada saat itu. Dia hidup pada dunianya sendiri. Dia berpegang pada pensil di tangan kanannya dan sebundel kertas gambar. Dia hanya bicara melalui skestsanya. Aneh. Begitu orang bilang. Kuper. Begitu kesan orang.  Tapi bagiku tidak.  Dia. Ah dia sungguh indah. Sering sekali aku mencuri pandang garis hidungnya yang tinggi, kulitnya yang bersih, rambutnya yang berwarna kelam, serta jari-jemarinya yang lihai memainkan pensil di atas kertas gambar. Jari-jari itu meliuk-liuk menggoreskan grafit hitam di atas kertas menghasilkan coretan-coretan indah. Di atas kertas gambar itu, hitam beradu diatas puti

Renungan (Bukit) Takao

Whohooo...Akhirnya keinginan saya berkunjung ke gunung selain Tsukuba-san terwujud. Bukan gunung Fuji yang didaki, tapi Takao San.   Alih-alih berharap akan bertemu track layaknya Tsukuba-san, ternyata oh ternyata, gunung Takao ini tak ubahnya bukit. Beneran bukit! hanya kurang lebih 500 m ketinggiannya, hahhahhah.. Boleh dong tertawa, karena saya benar-benar tertipu. Bener deh, ini gak banget. Tracknya cenderung datarrrrr.... Lebih terasa capeknya, kalo kita naek Gunung Kapur di belakang kampus IPB atau jalan ke curug Cibereum.   Sebelum saya bahas lebih jauh. Coba cek website ini.  Website ini memberikan informasi singkat tentang track dan kondisi pariwisata Takao san. Ada 6 track yang bisa diambil untuk menuju Takao san ini, dan kami memutuskan untuk mengambil track yang lumayan menantang yakni track 6, yang lumayan panjang dan terdapat air terjun di sini.   Jalan di track 6 ini, bias dibilang relatif datar, dengan sungai di samping jalan setapak. Kita berjalan diiring

Dirimu dalam Diriku

Aku terhempas ke dinding ini, lalu mengusap tetesan darah dari keningku. "Cukup", kataku merintih kepadamu. Kamu tak berkata apa-apa. Tapi tanganmu mengrah ke pipiku dan menamparku keras. Kurasakan getir darah dari ujung bibirku. "Cukup, hentikan.. Sakit", lagi- lagi aku Merintih padamu. "Kenapa..? ". Tanyaku padamu sambil menangis di sudut dinding ini. "Ada sebagian diriku di dirimu. Saat ini aku sedang sakit hati. Kesal. Lelah. Tapi kamu malah diam saja di sini, sibuk dengan dirimu sendiri. Kamu Harus merasakan juga apa yang aku rasakan". Katamu dengan mata nanar, tersenyum Menatap mataku. "Kamu sakit..", kataku ringkih. Plak. Satu lagi tamparan mengarah ke pipiku. Lalu semuanya gelap. Aku pingsan. **** Aku tak menyadarinya. Semuanya manis saat kita pertama berjumpa, lalu seperti mimpi buruk saat aku memutuskan menikah denganmu. Ada sebagian diriku dalam dirimu. Itu yang kamu ucapkan berulang-ulang. Saatn kamu d

Meminjam Payungmu

Tak ada yang lebih baik dilakukan saat hujan kecuali merenung. Merenung tentang hari-hari yang kadang mendung, atau penuh senyum. Tak ada waktu lebih baik untuk melamun kecuali hujan. Hujan bisa membuat simpul senyum di wajahmu atau bisa juga membuat matamu tergenang sedih, seperti yang terjadi padaku saat ini. Hujan ini membuatku diam sempurna menunggu kamu yang tak datang jua. Aku menunggumu lama. Aku menunggu kabarmu, namun tak kunjung aku dapatkannya. Tapi apa yang kulakukan? aku diam sambil menatap hujan. Aku sesekali tersenyum menatap hujan, menicptakan keindahan sendiri dari hujan ini. tapi aku juga bersedih menatap hujan ini. Ah hujan, kau mencabik suasana hatiku sungguh. Hujan ini aku menunggu kamu. Satu jam...dua jam...  Kamu lama sekali. Tapi tahukah kamu aku tetap menunggumu di hujan ini. Kamu lama sekali. Lalu aku melihat dia. Aku melihat dia. Dia, lelaki yang  membawa payung besar berwarna-warni. Lalu aku melihatnya tersenyum padaku. Aku serasa mengenal

Dokter Gigi Oh Dokter Gigi

Bukan nyaingin tulisan ine tentang dokter gigi. Tapi postingen ine menginspirasi saya.   Sebenarnya saya tidak pernah sakit gigi. Suerr...cuman saya tipe kerajinan. Saya sudah buru-buru ke dokter gigi sebelum karies say bikin saya sakit gigi.   Tapi urusan saya berurusan dengan dokter gigi di jepang adalah saat saya mendapatai ada daging tumbuh di gusi saya. mungkin sekitar 1 cm. Cukup mengganggu dan bikin ngeri. Akhirnya saya memutuskan ke dokter gigi, dan pada saat itu juga sang dokter mengangkat daging tumbuh dari gusi saya. dengan bius parsial, gunting dan lain-lain hilang seketika daging tumbh itu.   Dengan bahasa inggris yang terbata-bata sang dokter menjelaskan penyebab munculnya daging tumbuh saya. daging tumbuh ini adalah akibat dari infeksi gigi saya yang ditambal tak sempurna oleh dokter sebelum saya ke jepang ini. sang gusi saya berlebihan membentuk pertahanan hingga menimbulkan daging tumbuh itu.   untuk menangani kasus itu, si dokter berusaha menuntaskan

Tohoku, I am in Love with You !!!

Awal bulan juni saya diawali dengan sangat manis, dengan trip mewah bareng rombongan dari Sato Yo Scholarship Foundation ke Area Tohoku. Hmm, yang jelas ini trip bukan ala backpack seperti yang saya lakukan. Senang..senang :)  Saat pertama dibilang Tohoku, yang terbayang oleh saya adalah daerah bencana di Jepang. Lantas,yang terlintas di otak saya adalah wisata kunjungan ke daerah bencana. Ternyata bukaaan..Tohoku adalah nama area di area utara pulau utama jepang yakni P. Honshu yang meliputi daerah sendai, Miyagi, Iwate, Aomori, mm...apalgi ya? ya intinya sekitar situ.  Dua hari trip ternyata kami mengunjungi 3 prefecture dan tugas kita adalah hanya duduk di kursi sambil mendengarkan guide lalu makaan dan jalan-jalan :). Daerah Tohoku  ini alamnya perfect! sungai, gunung, danau, hutan, dan laut berdampingan. Bagi saya pecinta  wisata outdoor yang saya lakukan hanya ternganga-nganga melihat dahsyatnya pemandangan alam ini.  Seperti khayalan, rasanya saya cuma bisa lihat di

Bakat Seni itu Genetik ?

"Orang mikirin seni itu kalo urusan perut udah beres" Kalimat itu diucapkan teman saya saat saya komentar tentang banyaknya pertunjukkan seni di Jepang. Hampir setipa minggu di berbaga tempat berbagai karya seni ditampilkan di jepang ini. Baik itu, music  lukisan, craft, sculpture bahkan yang aneh-aneh.   Dipikir-pikir lagi. Ucapan teman saya itu ada benarnya. Tak mungkin orang akan berfikir keindahan jika urusan primer tak tercukupi. Apalagi seni itu kebutuhan sekunder, lalu pameran dan lainya adalah suatu bentuk aktuliasasi diri yang jika dirunut dari piramida kebutuhan ada di urusan atas. Di jepang ini, saat semua orang sudah tercukupi hidupnya, orang mencari-cari hal baru dan memuaskan seperti karya-karya seni yang menjamur di setiap titik negeri ini.   Mahasiswa-mahasiswa yang mempelajari seni mempunyai tempat yang layak untuk memamerkan karyanya. Karya-karya hasil tangan dihargai dengan sangat mahal tapi laku juga.   berbeda sekali di Indonesia. Banyak se

Teman Hidup

Sedang mendung, menjelang hujan . tiba-tiba saya denger lagu ini di Youtube. Lagunya dan video klipnya syahdu sekali. Benar-benar syahdu... Tema videonya abdi dalem keratin dan kesehariannya. Simpel sekali. Tapi sangat syahdu. Apalagi dengan alunan piano yang lembut dan jazzy. Hmm..dengerin dan lihat sendiri ya :)

Oleh-oleh dari Los Banos, Filipina

Asli. Saya berasa jadi orang sunda yang susah membedakan bagaimana menyebutkan Negara ini dengan baik dan benar. Philiphina atau Filipina. Di kosakata bahasa inggris, Philliphines tepatnya. Tapi untuk kosakata bahasa Indonesia, entah yang mana. Apapun itu deh :)   tanggal 18-25 Mei kemarin saya berkesempatan jalan-jalan ke Negara ini disokong dari scholarship saya di sini. Jadi, ini adalah jalan-jalan berkedok konferens :) . Tapi suer kok, sambil belajar dan presentasi ilmiah di sini :).   baiklah mari kita mulai satu-persatu.   University Philliphines of Los Banos, Collage of Forestry and Natural Resources   Kampus dalam kebun raya. itu mungkin kalimat yang bias menggambarkan kampus ini. Kampus ini dibanguns sekitar 100 tahun lalu dan merupakan kampus kehutanan tertua di Asia tenggara. Pohon-pohonnya indah dan kokoh. Persis seperti kebun raya bogor. Tapi mungkin karena dibangun dalam waktu yang lama ada bagian-bagian kampus yang tampak tua dan lusuh.   tapi bagi

Rush Hour

Tak hanya di Jakarta, ato di Moskow. Rush hour pasti memusingkan. termasuk di sini, Tsukuba. Bukan di kota Tsukubanya. Tapi di kampusnya.   Hampir setiap orang di sini menggunakan sepada sebagai sarana transportasi umum. Misal banyaknya mahasiswa di Tsukuba adalah 5000 (pasti lebih) dan 80% diantaranya adalah pengguna sepeda bias dibayangkan berapa banyak sepeda yang lalu lalang di sini. Rush hour adalah jam-jam pergantian waktu jam pelajaran.   Selama rush hour ini, setiap orang mengayuh sepedanya layaknya Neil Amstrong. Ngebut ga beraturan karena semua ingin sampai di kelas tanpa telat.   Ada yang mengambil jalan pintas lewat jalan-jalan kecil layaknya mountain bike.   ada juga yang bersepeda ngebut dan bergerombol.   Sering pula tabrakan saking kencengnya.   Ada juga yang naik sepedanya minggir banget karena takut dengan kecepatan pengguna jalan sepeda yang lain.   Ada juga yang nunggu buat nyebrang ...lama sekali karena para rush hour-ers ini gak mau ka