Skip to main content

Posts

Showing posts from 2014

Di Banjarbaru....

sumber : sini  A : Tinggal di mana B : Banjarbaru A : oh yang di jawa tengah? B : Bukan. Kalsel A : Oh, banjarmasin.. B : Bukan.  Anggaplah A adalah bunga, dan B adalah saya. Nah, percakapan semacam itu sering banget terjadi saat ada teman yang bertanya di mana saya tinggal sekarang. Nah, buat yang belum tahu Banjarbaru itu terletak di kalimantan selatan, dan banjarbaru adalah kota dan sangat amat terjangkau akses, karena bandara udara provinsi kalimantan selatan letakknya di banjarbaru. Jadi, plis deh ga usah tanya banjarbaru di kota atau pedalaman, banyak hutannya atau ga. jawabannya, yaa kota pada umumnya :P . Ada mall-nya kok  :P  sebagai perantau baru yang baru berumur lebih kurang 6 bulan, ada hal-hal menarik yang (mungkin ya ) cuma ada di Banjarbaru.  Catch a Kecap !!! Produsen kecap pastinya cinta banget sama masyarakat banjarbaru ini. Terlebih lagi jika ada survei marketing daerah potensial untuk memasarkan kecap, pastilah Banjarbaru dan sekitarn

morning contemplation

last sunday night, i watched the end episode of the hobbit trilogy. As the fan of this fiction stories, i was fully satisfied with peter jackson work, indeed. Instead of the story of this trilogy, watching the hobbit movies give me another feeling, since i watched the first, second, and third movie in the different places.  Tsukuba, Bogor, and now Banjarbaru.  About a year ago, when i have finished watched the second movie, i was wondering about the 3rd movie. where will i be? with whom i will watch the movie? and now i got all the answer. Banjarbaru with igo, my dearest husband. Life drag me here. I never wondered before. Here new phase of life starts. Life with husband, new job, new culture, and every matters that you deal when you start your own new journey. it might be my surprise in 2014. I smile, laugh and sometimes cry.  So, 2015. what it will be? I am ready for new adventure. 

Buat Punya-punyaan

Sebagai cewek, pasti kita ga pernah lepas dari namanya impulsive buying. Beli gak pake mikir dan mengandalkan alasan buat punya-punyaan.  Buat punya-punyaan ini dijamin deh pasti pernah terjadi di semua cewek. Entah itu kosmetik, sepatu, tas, buku atau barang-barang lainnya.  Barang buat punya-punyaan saya paling banyak bukan separu atau tas, tapi lebih ke barang yang sifatnya untuk hobi dan lagi penasaran. Dulu pernah banget beli alat sulam satu set, niatnya pengen belajar nyulam. Giliran udah ketemu susahnya mandek. Lalu perlengkapan sulam pita, perlengkapan menggambar dan yang paling update kali ini adalah mesin jahit buat punya-punyaan.  Sampai seminggu barang datang sih, saya masih excited. Masih benerin baju yang koyak atau bolong, masih kepikiran mau beli ini itu. Nah, kita liat aja deh beberapa waktu ke depan.  Nah, pernah mengalami hal yang sama? tipe barang apa yang kamu sering beli buat punya-punyaan? 

Overthinking happens at Bathroom

Am I the only one ? pertanyaan ini selalu ada di benak saya ketika saya menyadari kebiasaan saya yang aneh, yakni ngelamun    banyak mikir di kamar mandi.  saat mulai masuk kamar mandi, sikat gigi, rasanya ada remote yang diarahkan ke saya dan si empunya remote control itu pencet tombol "pause". Lalu, mulailah saya bengong sambil mikir ini itu.  Mulai mikir kerjaan di kantor, mulai mikir punya ide ini, mikir warna apa yang cocok buat kamar, mikir bentar lagi pake baju apa, juga kadang mikir kondisi negara. Pokoknya macam-macam pikiran ini trafficnya padat banget kalo lagi di kamar mandi gini.  Hasilnya, kadang punya ide tulisan. Punya ide nambah2in laporan atau jurnal. Punya ide buat nge-blog, ini salah satunya.  Negatifnya, suka lupa waktu dan digedor-gedor.  Back to the main reason why i wrote this post. Am I the only one? is it normal? 

Working style , whats yours ?

Hoi hi.. apa kabar cuaca? awal musim hujan yang lumayan dingin gini rasanya tetep anget kalo inget harga BBM yang lagi naik.  Nah, biar gak terus resah, makanya kita kudu kelja kelja kelja seperti semboyan pemrntahan sekarang.  Nah, ngomongin kerja ini. Kemarin, saya baca satu thread di milis yang saya ikuti tentang beberapa style kerja di beberapa negara. Ini nih ya akan saya ulas dikit-dikit .. Jerman Negara jerman yang cukup maju ini dikelan punya pola kerja yang lumayan keras. Selama mereka bekerja jarang banget deh (katanya) ngobrol, buka hape, fesbukan atau ngeblog kayak gini. Bahkan membaca email pribadi juga dilarang. Tetapi diluar jam kerja, pekerja di jerman ini memiliki "me time to the fullest". Gak bakal ada kerjaan yang berseliweran di luar jam kantor.  Libur juga secara teratur diberikan, bahkan liburnya bisa panjaangggggg banget, jadi bisa menikmati liburan secara maksimum.  Amerika  Sebenarnya, artikel yang saya baca ini membandingkan

Buku Baca

sumber gambar  di sini   Buku Baca.  Dua kata ini berawalan huruf B yang memang tidak bersaudara tapi mereka ini punya hubungan kekerabatan yang erat. Dua kata ini, pada prakteknya tanpa disadari (mungkin ) merubah hidup saya. Hihihiihi, sok iye banget. Tapi, (lagi-lagi) mungkin begitulah.  Buku dan Baca jika diingat-inget merupakan kegemaran saya dari kecil.  Saat saya masih kecil, dan (alm.) ibu saya masih mengajar di sekolah dasar, setiap weekend ibu saya selalu membawa majalah anak untuk saya. Bukan beli, tapi majalahnya pinjam dari perpustakaan sekolah yang sudah akan dimasukkan gudang. Begitu yang terjadi berbulan-bulan. Melihat antusiasme saya baca, ibu saya akhirnya menganggarkan uangnya untuk berlangganan majalah anak-anak. Majalah mentari, begitu nama majalahnya. Majalah anak lokal di daerah jawa timur yang masih satu grup dengan jawa pos. Jika tidak salah ingat, majalahnya terbit setiap jumat. Lalu setelah bapak pengantar majalah datang, Saya langsung dudu

Penjahit Jujur

Kemarin, saya menuju tukang penjahit untuk menjahit celana. Penjahit : Mbak, celananya mau pake karet atau ga? Saya      : Nggak usah pak Sambil si bapak ngukur ukuran, saya mikir dan meralat omongan tadi. Saya     : Mmmm, pake deh pak. Takut kalo jadi gendut ntar Penjahit : Iya mbak, bagusan gitu. Eh tapi mbaknya jangan gendut lagi soalnya mbak pendek Saya : *palmface*

Asap oh Asap

Beberapa tahun lalu, saat umur saya awal 20-an (duileee..), saya punya cita-cita tinggal di kota yang tennag, gak banyak penduduknya, tapi fasilitas serba ada. Berbekal keinginan itu, saya membulatkan tekad untuk merantau!!.  And.. here i am. Sekarang beneran merantau di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.  Kota ini menurut saya relatif enak sih, gak padet2 banget, gak sering macet, tapi fasilitas juga komplit. Mau karaokean dari happy puppy, nav, diva, bahkan tempat karaoke abal-abal juga ada. Mau ke mall juga ada. Ya.. intinya cocok untuk tipikal orang-orang kadang pengen rame tapi sering pengen sepi kayak saya ini.  Nah kedamain mulai terusik bulan ini, sebabnya adalah Asap. Dulu saya sering banget lihat liputan kabut asap di tivi. Eh sekarang saya ngalamin sendiri. And i can say, its extremely uncomfortable. Sewangi apapun parfum yang saya pakai, sebulan ini tetep wangi yang dominan adalah bau asap. Hal yang paling mengganggu dari asap ini muncul pada saat subuh. Kataya sih,

Peniti

Saya pakai kerudung dan gak mau pake ribet pada saat saya pakai kerudung. Salah satu bentuk perlawanan dari keribetan itu adalah males mamakai bros warna-warni dan bling-bling pada kerudung saya. Kecuali pada special occasion. Alhasil, setiap hari saya memakai peniti.  Kadang saya menggunakan peniti kecil, sedang atau bahkan yang gede mirip peniti embah-embah yang dipakai di kebayanya.  Suatu hari, ada suatu teman sebut saja melati. Melati nyeletuk : saya juga pakai peniti karena bross saya keselip entah kemana. Ada yang spesial dari pernyataan melati? gak ada sih. Cuma mau bilang ternyata kebiasaan saya menjadi second option buat orang lain.  Berkaca dari obrolan peniti, saya sampai pada suatu pemikiran. Preferensi dan pandangan orang terhadap suatu hal pasti berbeda. Saya menganggap memakai bros itu ribet, apalagi yang bling-bling. its so emak-emak banget. Lain orang lain pikiran. Orang lain menganggap pakai peniti itu ngga banget. Nggak modal. Mending pake bross, fashio

Perubahan Kecil Dimulai dari Rumah

Go Green. dua kata ini percaya gak percaya selalu muter-muter di otak saya. Entah karena kecuci otak karena keseringan lihat orang pakai kaos bertemakan go green pada saat kuliah atau memang keseringan baca materi kampanye dari LSM-LSM yang rasanya banyak banget dijumpai pada saat kuliah. Well, The campaign works! Dulu pengen banget ini dan itu biar bisa ikut-ikutan green lifestyle alias gaya hidup hijau ini. Nah, karena dulu masih ngekos dan susah banget ngobrak-abrik kosana, jadinya pasti yang dulu keluar di pikiran adalah "ntar deh kalo udah punya rumah sendiri". Nah, sekarang karena sudah punya rumah (kontrakan) sendiri, saya sudah mulai bisa berkreasi mempraktekkan kampanye-kampanye yang ada di kaos mahasiswa kehutanan. Simpel sih. Ngefeknya ga banyak juga, tapi kalo banyak yang lakuan, yakin aja deh bermanfaat. Apa saja sih perubahan kecil yang bisa dilakukan di rumah. Ini yang sudah saya praktekkan : 1 . Memanen Air Hujan  Kebayang kan jika musim kemar

Ceroboh vs Laboratorium

Dua tahun terakhir saya nggak jauh-jauh dari namanya laboratorium. Karena ketidaksengajaan, akhirnya saya nyebur dan bekerja di runagan yang dinamakan laboratorium. kadang senang kadang bosan. Ya iyalah, yang dilihat cuma bakteri dan jamur serta berjejer bahan kimia.  Nah meskipun sudah dua tahun bekerja di lab, saya masih susah sekali lepas dari sifat ceroboh yang berakibat fatal. Jika diingat-dinggat ada rentetan kejadian bodoh yang sebabnya ya saya sendiri.  masih teringat sekali, pada saat ekstraksi DNA saya menumpahkan eppendof non-retention. Jenis mikropipet ini mahal dan sekali jatuh harus dibuang. Nah, waktu itu saya nyenggol sesantainya dan akhirnya ratusan micropippet itu jatuh semua.  Lalu, lupa setting micropippet dengan benar karena pingin kerjaanya cepat selesai yang berakibat gagalnya ekstraksi DNA, mecahin lat ini itu, api membara di dalam laminar dan lain-lain. Itu cerita waktu ngerjain tesis.  Lain tempat lain cerita. Sekarang di tempat kerja.  na

Mampir Sebentar ke Pantai Pagatan

Kalo ditanya teman tempat wisata yang menarik di Kalimantan Selatan itu apa, wah mungkin butuh seminggu jawabnya.  Sebagai perantau newbie di sini, saya juga mengajukan pertanyaan yang sama kepada teman-teman saya dan jawabnnya sama, bingung. Tapi kemarin saya berkesempatan mengunjungi salah satu destinasi wisata di Kalimantan Selatan, yakni Pantai Pagatan.  Sebenarnya kunjungan ke pantai ini adalah suatu ketidaksengajaan. Ceritanya, lagi dalam perjalanan dan kita niatin sebentar mampir ke pantai yang ada di dekat jalan yang kita lewati. Eh, pas mobil mau parkir di daerah-daerah berpasir, kita malah lihat ada gerbang dan sejenis darmaga yang memang sengaja dibangun untuk wisata.  Nah, dari situ akhirnya kita muter lewat gerbang dan baru tahu bahwa lokasi yang kita datangi adalah pantai Pagatan. Pantai Pagatan ini letaknya di kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Jika ditempuh dengan jalan darat lama perjalannnya kira-kira 6 jam dari Banjarbaru. Jauh, iya jauh.  Ge

Lulusan IPB dan Motor

Ada pencapaian luar biasa yang saya capai minggu ini, yakni bawa motor. bukan cuma bawa, tapi nyetirin motor sendiri.  Buat saya yang diboncengin saja takut, tentu ini prestasi. Memang keadaan terpaksa buat kita melakukan apa saja yang kiranya tidak mau lakukan sebelumnya.  Hidup di luar jawa, yang minim transportasi umum mengharuskan masing-masing individu memiliki kemampuan untuk mengendarai kendaraan. Dulu, saat saya bekerja di Pontianak, saya bisa survive dengan mengendarai sepeda saja kerena jarak dari kosan saya menuju kantor dekat.  Tapi pas tinggal di Banjarabaru ini, kondisi memaksa saya untuk bisa mengendarai motor.  Ada sedikit gurauan di lingkungan kantor saya sekarang tentang kemampuan naik motor dan alamamater, yakni anak ipb (cewek) pasti ga bisa naik motor, beda sama anak UGM. Ya.. gimana ya, pasti beda lah. Anak IPB kan cinta lingkungan, jadi lebih memilih menggunakan transportasi umum berupa angkot dibanding bawa kendaraan pribadi.  betul ga? hihih

Lulus

5 Agustus 2014 Lulus S2. Alhamdulillah.  rasanya masih kemarin saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan saya saat itu dan memutuskan kuliah dengan tekad bulat ber bekal tabungan selama bekerja satu setengah tahun bekerja.  Saya mengambil jurusan silvikultur tropika dengan cita-cita bergerak di bidang restorasi dnegan penggunaan teknologi terbaru (ceritanya sih begitu), tapi pas kecemplung di sini malah dijodohkan dengan studi jamur-jamuran yang tak kasat mata.  Selama kuliah, proses yang saya jalani luar biasa. Dari cekak duit sehingga mesti cari kerjaan tambahan dari ngajar, jualan kerudung, jadi content writer dan lain-lainnya. Sampai alhamdulillah dapat beasiswa pada tahun kedua dan juga dapat kesempatan mengikuti pertukaran pelajar yang rasanya nano-nano.  Satu lagi yang tak kalah penting adalah teman-teman yang sudah kayak sodara. satu angkatan kami hanya ada 11 orang, jadi tak heran kita sangat dekat satu sama lain. Saling memberi bantuan dan dukungan satu

Makan Rumput Laut dan Presiden

Beberapa minggu lalu, saya dikirimin oleh-oleh dari Korea oleh sahabat saya yang selalu ngegemesin Jojo yakni  Dried Seaweed alias rumput laut yang sudah dikeringkan.  Ceritanya, karena saya lagi masak sop dan tidak ada kol, akhirnya saya subtitusi itu kol dengan rumput laut. Pas lagi makan itu sop, maspring komen.  "Oh ni toh rumput laut yang asli. Baru pertama kalinya makan. Biasanya cuma tahu rasanya lewat snack-snack kayak Taro" Saya manggut-manggut baru sadar. iya sih, jika dipikir-pikir negara kita ini dimana-mana ada laut tapi kenapa masyarakatny ajarang makan rumput laut yang jika beli di luar negri sana harganya selangit. Atau kita menikmatinya di sushi restoran jepang yang juga harganya cukup menguras kantong yah, mungkin itu cuma satu contoh saja. Belum lagi banyak sumberdaya kita yang harusny amurah tapi jadi mahal karen akita harus membelinya lagi dari luar negri. Ah miris-miris!!  nah, berhubung ini 22 Juli pengumuman presiden baru Indonesia

Kecap Nomer Satu

eitsss.. ini bukan postingan tentang presiden yang banyak kecap. Ini bukan majas konotasi, tapi beneran denotasi (bener kagak tuh), yakni tentang kecap. Beda daerah beda kebiasaan. nah ini nih kebiasaan masyarakat banjar yakni makan apapun pakai kecap. Sayur asem pakai kecap. urap pakai kecap. sop pakai kecap. oseng sayur pake kecap. nasi aja juga gapapa, asal pake kecap. Saking cinta nya sama kecap, di kotak kateringan bukan tisu yang dikasih tapi kecap sachetan yang ada di dalam kardusnya. bayangkann..satu orang satu sachet kecap. di sini produsen kecap senang pastinya. Semua cuman soal selera :)

DI Taxi : Cerita dari Arab dan Minta Cerai

Akhir Juni ini, status saya sebagai perantau di banjarbaru berumur sebulan lebih beberapa hari.  Seperti biasa, ada daerah ada cerita. Termasuk pengalaman saya di angkot yang masyarakat di sini menyebutnya taksi.  Di seantero kota banjarbaru ini, transportasi umum hanyalah satu. Yakni angkot berwarna hijau tua yang cuma punya jalan lurus tanpa belok. Ya cuman satu ini. Saya, yang masih kesulitan naik motor menjadikan angkot ini sahabat setia saya. Namun, beberapa kali saya naik angkot, saya dikejutkan dengan orang yang tiba-tiba cerita panjang lebar tentang dirinya.  mungkin orang di sini memang tipenya terbuka ya, tapi kadang kelewatan seperti dua kejadian yang saya alami ini yakni cerita dari Arab dan Surat Cerai.  Dari Arab.  Saya duduk manis di angkot. Tiba-tiba ada ibu-ibu usia lebih dari paruh baya tiba-tiba bercerita. sebut saja ibunya bernama melati.  Melati : Saya nih batu pulang dari arab. kerja di sana. Sekalian umroh. Nih saya pulang bawa hape baru (sam

Orang Jawa dan Bakso

Pas jaman kuliah, sekitar 4 tahun yang lalu, ada seorang teman yang ibunya kurang sreg jika anaknya mendapatkan jodoh orang jawa. Komentarnya si ibu, orang jawa itu kemana-mana, tapi jualan bakso. Hiiihihihi.. Bukan maksud apa-apa nih terhada orang jawa, atau abang tukang bakso. Tapi setelah si ibu bicara begitu, saya jadi manggut-manggut. Dulu pernah penelitian di Tangkoko, Sulawesi Utara. KAmi carinya abang bakso. Yang jual orang jawa.  lalu sekarang, kurang lebih dua minggu saya tinggal di Banjarbaru, Kalsel. Banyak banget loh orang jualan bakso dan pentol (sebutan untuk bola-bola bakso di sini). dan memang...semuanya orang jawa. lallalallal.. dapat disimpulkan bahwa wilayah jelajah orang jawa ditandai dengan bakso :) ,dan enak loh bakso kalo yang bikin orang jawa. Apalagi bakso malang, pake sambel. usap iler.  Nah dimanapun kalin berada, seterpencil apapun kalian, Nyari tukang bakso kan? yang jualan orang jawa kan ? enak loh baksone... :) 

Bulan mei ini, setahun yang lalu..

Bulan mei setahun yang lalu..  saya menikmati musim semi yang mulai menghangat. Saya ingat, saya ikut terlibat di suatu kegiatan penting gak penting di organisasi penting gak penting di sana.  Saya ingat teman-teman yang saat itu bersama mengurusi kegiatan penting gak penting itu. ya, teman-teman yang membuat saya tersenyum di negeri yang orangnya jarang senyum itu. Mengingat itu, saya tersenyum. Bagaimana bisa lupa.. Masih bulan mei setahun yang lalu,  Saya melakukan perjalanan sendiri ke negara yang dulu saya cuma baca di pelajaran IPS. Ke korea dan juga ke filipina. Dulu, ada pertanyaan, dimana pusat riset padi terbesar di dunia? jawabnya, IRRI di Los Banos. Saya berkunjung ke sana.  Mengingat itu saya tersenyum. Alhamdulillah.. Bulan Mei ini.. saya bersiap pindahan lagi. Barang-barang pindahan hampir 8 bulan kemarin, belum semua saya bongkar. Sekarang pindahan lagi ke kota yang sebelumnya tak pernah terlintas di otak saya. Bekerja di suatu institusi yang juga

Filosofi Media Tumbuh Jamur

Judulnya berat amaaattt !!! padahal arti filosofi saya juga ga ngerti. Ikut-ikutan aja, kayaknya pas gitu aja. Tulisan filosofi ini adalah renungan saya tadi pagi di depan laminar saat melihat hasil percobaan yang gagal maning gagal maning. Dua minggu terkahir ini, saya lagi ngebut kerja di lab untuk uji in vitro jamur. Ada yang berbeda dari perlakuan dan kebiasaan yang saya lakukan sebelumnya, kali ini saya gant media spesifik yang kaya nutrisi. Komplit deh, semua yang dibutuhkan si jamur hidup itu ada semua. intinya, gak perlu usaha, semua udah ada. Tapi, bekerja dengan yang satu ini bikin pusing. Saking kayanya kandungan nutrisi tuh media, jadinya banyak yang nyamperin dan gangguin, entah tu jamur lain atau bakteri yang ada muncul entah darimana. Beda banget sama media yang saya gunakan sebelumnya. Banyak yang bilang media yang saya gunakan seblumnya adalah media miskin alias minimalis. Bisa hidup sih, tapi gak bisa jumawa alias hidupnya pas-pasan. Pas lagi sedih karena harus

Cerita Tengah Malam

Hari Selasa kemarin, saya mengantar Pakpring yang akan kembali bekerja di Ketapang. Ingat, Ketapang itu bukan hanya di Banyuwangi, tapi juga di Kalimantan Barat. Kebetulan untuk penerbangan direct Jakarta-Ketapang hanya ada satu maskapai yang menyediakannya yakni Aviastar dan penerbangannya hanya ada sekali sehari di pagi hari. Ada dua alternatif yang bisa dilakukan untuk penerbangan pagi, yakni berangkat tengah malam sekitar jam dua pagi ke bandara atau berangkat malam hari sebelumnya dan tinggal di bandara. Karena pertimbangan transportasi yang terbatas dari daerah Cibitung, maka kami memilih berangkat malam hari dengan pertimbangan bisa nongkrong-nongkrong di warung kopi sekitar Bandara yang relatif nyaman. Setelah pamit ke keluarga, kami ke pool damri bekasi yang terletak tak jauh dari Metropolitan Mall, Bekasi. Apesnya, damri terakhir sudah berangkat. Balik lagi ke rumah terlalu jauh dan malah bikin capek. Akhirnya kami putuskan untuk menunggu di pool damri tersebut.

Di Luar Angkasa

Aku di ruang angkasa. Ini bukan mimpi. Aku lihat sekitarku berwarna hitam. Sepertinya aku berada di antarabumi, bulan dan matahari. Aku melihat dengan jelas galaksi Bima Sakti yang terkenal itu. Di sini hitam, tapi percayalah ini indah. Lihat, bulatan merah itu. Itu pasti planet mars. Lalu aku melihat planet yang mempunyai cincin itu. Ah, aku lupa apa namanya. Nilai geografiku jelek saat sekolah menengah pertama dulu. Tapi tak apa, yang penting aku bisa ke luar angkasa lebih dahulu dibandingan temanku yang memiliki nilai lebih baik. Aku di luar angkasa. Sekarang aku melayang-layang seperti di film-film Hollywood. Gravitasi tak lagi bekerja di tubuhku. Rasanya enak sekali loh seperti terbang. Aku bebas dan tak ada beban. Enak sekali di sini. Mungkin ini yang dirasakan Neil Amstrong saat dirinya mendarat di bulan. Lalu Neil Amstrong itu meloncat-loncat kecil. Ah, sekarang aku bisa melakukannya. Hei kamu, apa kamu mau ikut aku di sini. Jika kamu di sini aku mau kau dan aku terb

Di Warteg Hari Ini

Saya lagi di warteg, makan siang rapel sarapan. Saya Pesan nasi setengah, lauk, dan sayur kangkung. Ditengah-tengah makan, saya nemu ulat segede kelingkin ketumis bareng kangkung. Singkirin ulatnya. Lanjutin makannya. Tapi bukan ini yang mau saya ceritakan. Ini saya dengar pembicaraan mas-mas bengkel dekat kosan saya yang juga lagi makan di warteg. Mas A : Ah, mahasiswa ini bisanya makan enak terus. Gak mikir apa duitnya dari orang tua. Ada tuh,                          mahasiswa yang benerin motor di tempat saya, kurang 7000 aja gak bisa bayar. Tapi tiap hari                      bawa cewek Mas B : masa? Mas A : Iya, tiap hari pacaran. Padahal yang dipakai duit orang tuanya. Saya : (dalam hati) sepertinya bapak ini jomblo.

Jadi Emak-emak

Sehari setelah melangsungkan akad nikah, saya dan partner langsung bertolak ke Banjarbaru. Untuk yang tidak tahu dimana itu banjarbaru, itu loh salah satu kota di Kalimantan Selatan. Mengapa kesini, pertama partner ingin mengenalkan saya kota di mana saya akan bekerja nanti dan rencannya menetap di sini. Alasan kedua yakni karena dari Banjarbaru itu, kami akan menuju tempat kerja partner. Banjarbaru rasa Kalimantan Hal pertama yang ada di pikiran saya setelah menginjak kota ini adalah akhirnya saya kembali ke Kalimantan setelah hampir 2,5 tahun lalu saya meninggalkan Pontianak, Kalbar. Sebenarnya, tidak ada yang special dengan kota ini dan tidak ada yang aneh. Kota ini khas seperti kota-kota ibukota propinsi khas luar jawa. Sama seperti halnya saat saya pertama di Pontianak dan kebingungan dengan bahasa Melayu, disini saya kebingungan dengan bahasa banjar. Tapi tampaknya, bahasa Banjar ini lebh susah ketimbang bahasa Melayu Pontianak. Kata-katanya jauh sekali dari bahasa Indones

Menikah !

Yup ini adalah postingan pertama saya di tahun 2014. Perasaan sok sibuk dan sok pusing membuat saya malas menulis apa-apa di blog ini. Lalu, didorong rasa jenuh dan mencegah otak beku soalnya kerjaan saya cuman masak dan nunggu si partner pulang kerja, membuat saya terdorong untuk menulis hal-hal remeh plus sedikit curhat di blog ini. 16 Februari 2014 Yup, pada tanggal tersebut saya membuat suatu poin besar di dalam hidup saya yakni menikah. Setelah hampir 8 tahun berpacaran, akhirnya saya dan Pringgo memutuskan untuk menikah. Kenapa harus menunggu selama itu untuk berpacaran dan akhirnya menikah? Ya, karena pada tahun ini kita sudah memutuskan inilah waktunya.  Selama 8 tahun itu, kita berjuang masing-masing untuk memuaskan diri kita masing-masing. Bukan berarti apa yang kita cita-citakan sudah sepenuhnya tercapai, tapi rasanya kita sudah mencoba masuk ke passion kita. Itu saja. Setelah 16 Februari ini kita berdua menjadi partner yang salaing mendukung dan membantu untuk me